Matius 1:1-17 (VI)
Lanjutan dari seri Matius 1:1-17. Besok saya akan menutup seri ini.
6. Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus.
Cara Matius menjelaskan garis keturunan mengikuti tradisi Israel pada umumnya. (cth. 2 Taw 1) Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, dst. Kalaupun ada modifikasi, itu biasanya demi mengikutsertakan sang ibu, yang memang karena adanya tujuan tertentu. (Lihat bagian IV dan V) Kalau dirangkum, ada tiga cara yang digunakan Matius:
- Abraham memperanakkan Ishak (standar)
- Boas memperanakkan Obed dari Rut (menyebutkan nama ibu)
- Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria (menyebutkan asal ibu)
Ups. Bukan tiga cara. Ada cara keempat.
Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus.
Dan semua orang pun akan kebingungan luar biasa. Maksudnya?! Jadi Yusuf ini memperanakkan Yesus gak? Kenapa tidak ditulis seperti biasa saja: Yusuf memperanakkan Yesus? Atau, kalau memang ingin mengikutkan nama sang ibu, kenapa tidak begini: Yusuf memperanakkan Yesus dari Maria? Apa yang terjadi sehingga Matius menuliskan garis keturunan Yesus dari Yusuf seperti ini?
Subsilsilah ketiga, seperti yang saya sudah tuliskan sebelumnya, memang berkesan gelap. Dan misterius. Dimulai dengan pembuangan ke Babel, diikuti oleh nama-nama orang yang tidak dikenal, dan diakhiri dengan proses keturunan yang nyeleneh pula. Seakan tidak ada gunanya membaca subsilsilah ini kalau seorang ingin menemukan pengharapan Israel disana. Dimulai dengan tragedi dan penghakiman dan diakhiri dengan misteri. Benarkah demikian?
Di tengah nuansa bacaan yang gelap dan misterius dan seakan tiada harapan inilah, Matius menutup subsilsilah ketiga dengan…
Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus.
Di tengah keputusasaan, muncul suatu harapan. Kristus. Dan pembaca yang sekarang sudah mengalami berbagai macam perasaan yang campur aduk (putus asa namun merasakan adanya harapan) ini sekarang diundang untuk melanjutkan membaca kisah yang ditulis Matius ini.
(Matius menutup rangkuman silsilahnya di ay. 17 juga dengan Kristus, bukan Yesus)
Matius 1:1-17 (V)
Lanjutan dari seri Matius 1:1-17.
5. Boas memperanakkan Obed dari Rut.
Tema umum pada silsilah Yesus di awal kitab Matius ini adalah: covenant (Abraham sampai Daud), kingdom to exile (Daud sampai pembuangan ke Babel), dan exile to this-man-called-Jesus-so-what (Pembuangan ke Babel sampai Yesus). Secara nuansa: positif dan penuh harapan; kemunduran; semakin parah atau semakin tidak menentu. Itu nuansa secara umum. Nuansa secara detil, mungkin berbeda.
Seperti ini, misalnya. Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, menantunya sendiri. Atau, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, dan Boas memperanakkan Obed dari Rut. Rahab, walau dipuji karena iman dan perbuatannya (Ibr 11:31, Yak 2:25), tetap saja seorang Gentile. Pun dengan Rut. Kerajaan Israel akan dibangun dengan peran Gentile? Yeah, right.
Atau, sebaliknya. Di bagian kedua, yang berakhir dengan pembuangan ke Babel, toh tidak semua rajanya jahat. Dari lima belas nama yang ada disana, tujuh diantaranya ‘melakukan apa yang benar di mata Tuhan.’ (atau enam, tergantung Salomo dimasukkan kemana) Dan kalau dipikir-pikir pas juga, tujuh yang ‘benar’ dan delapan (satu lebih dari tujuh) yang ‘jahat.’ Namun, tetap, pada akhirnya, nuansa umum yang melintasi subsilsilah ini adalah kemunduran kerajaan Yehuda.
Dan nuansa-nuansa detil ini yang berlawanan dengan nuansa umum, bukan malah menggugurkan nuansa umum, namun, justru sebaliknya, the exception proves the rule.
Matius 1:1-17 (IV)
Lanjutan dari tulisan ini.
4. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.
Nuansa yang dibangun pada tiap subsilsilah telah dijelaskan sebelumnya. Dari Abraham sampai Daud, Matius membangun nuansa positif dan penuh harapan. Dari Daud sampai pembuangan ke Babel, Israel mengalami kemunduran. Dari pembuangan ke Babel sampai Yesus, kesannya semakin parah atau setidaknya semakin tidak menentu nasib bangsa Israel ini. Ada tambahan sedikit saja untuk subsilsilah kedua. [baru ingat hari ini, padahal udah pengen memasukkan hal ini dalam bagian sebelumnya kemarin, cuma lupa]
Subsilsilah kedua dimulai dengan: Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria. Jelas Matius mempunyai pilihan-pilihan lain untuk menuliskan kalimat ini. Misalnya:
- Daud memperanakkan Salomo (seperti Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub – ay. 2)
- Daud memperanakkan Salomo dari Batsyeba (seperti Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut – ay. 5)
Kendati demikian, Matius memulai dengan: Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria. Alasannya, kalau kita bandingkan dengan argumen tiga subsilsilah ini secara keseluruhan, menjadi sederhana. Subsilsilah kedua menekankan kemunduran kejayaan kerajaan Israel yang berakhir pada pembuangan Yehuda ke Babel. Dan kemunduran ini dimulai bukan oleh Salomo, yang memulai penyembahan kepada ilah-ilah bangsa lain, atau oleh Rehoboam, saat terpecahnya kerajaan Israel dan Yehuda, namun oleh Daud, yang memperanakkan Salomo dari isteri Uria.
Ada nuansa ironi di sini. Daud, sang raja, yang dianggap mewakili masa-masa kejayaan kerajaan Israel, mungkin juga dapat dijadikan titik awal proses kejatuhan kerajaan ini. =)
Matius 1:1-17 (III)
Lanjutan dari tulisan ini.
3. Empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.
Jadi seluruhnya ada:
- empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud,
- empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan
- empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.
Matius merangkum apa yang ditulis di tiga paragraf sebelumnya. Dari Abraham sampai Daud. Dari Daud sampai pembuangan ke Babel. Dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mesias)
Merangkum dan menekankan ulang, jikalau pembaca belum menyadari intensinya menulis kitab ini dari tiga paragraf sebelumnya. Dari Abraham sampai Daud. Titik puncak perjalanan bangsa Israel. Dari Daud sampai pembuangan ke Babel. Titik terendah dan masih dialami bangsa Israel (secara implisit). Dari pembuangan ke Babel sampai Mesias. Huh? Mesias? Dari pembuangan… sampai Mesias? Mesias?! Saya harus membaca terus, untuk mengetahui apa yang Matius sebut Mesias ini lakukan!
Eits, sebentar dulu. Mari membaca kembali silsilah Yesus. Dari Abraham sampai Daud, dipenuhi tokoh-tokoh yang seluruh Israel kenal dengan sangat. Siapa yang tidak kenal Ishak, Yakub, dan Yehuda, misalnya? Dari Daud sampai pembuangan ke Babel, tak jauh berbeda. Mereka dengan mudah akan dapat mengenal nama raja-raja mereka. Seperti kita dengan mudahnya mengingat nama presiden-presiden kita. Dari pembuangan ke Babel sampai anak Maria, Yesus. Huh? Siapa mereka? Yesus, Yusuf, Yakub, Matan, Eleazar, Eliud, dst. Sekali lagi. Siapa mereka? Mengapa prospek keluarnya Israel dari pembuangan, alih-alih menjadi lebih baik, malah tampak semakin suram? Dan dengan silsilah seperti inilah, dengan tegas Matius menulis: dari pembuangan ke Babel sampai Mesias. Tak percaya? Mesias akan datang melalui silsilah ini? Silakan lanjut dibaca buku Matius ini.
Namun paragraf tentu tidak hanya sekedar menekankan ulang. Atau, kalau memang bertujuan utama untuk menekankan lebih, pasti ada unsur yang kita masih kelewatan. Bagaimana dengan angka empat belas? Pertama, mungkin yang paling penting adalah kesamaan jumlahnya. Jumlahnya sendiri, empat belas, tidak terlalu bermasalah. Perhatikan bagaimana ada kesamaan jumlah antara Abraham sampai Daud, dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dari pembuangan ke Babel sampai Mesias! Mungkin ini memang saat-saat yang kita nantikan!
Namun, mungkin bukan hanya kesamaan jumlahnya saja yang penting. Untuk permulaan, bahkan dari Daud sampai pembuangan ke Babel itu bukan empat belas keturunan, namun lima belas. Eh, bisa juga empat belas. Jadi begini. Dari Abraham sampai Daud, itu empat belas keturunan, dengan Abraham diikutkan dalam perhitungan. Dari pembuangan ke Babel sampai Yesus, itupun empat belas keturunan, dengan pembuangan ke Babel diikutkan dalam perhitungan. Dan jika kita mengikutkan Daud dalam perhitungan dalam sub-silsilah yang kedua, maka kita akan mendapatkan lima belas keturunan, bukan empat belas. =) Walau, sah-sah saja kalau untuk sub-silsilah ini kita menerapkan sistem perhitungan yang berbeda. Yaitu, Daud tidak dihitung. Dan kita akan kembali kepada empat belas. Matius sendiri juga tidak mengikutsertakan beberapa raja Yehuda, malahan. Secara khusus, raja-raja yang terdapat antara 2 Raja-raja 8-15 dilewati. Kalau raja-raja ini diikutkan, maka jumlahnya mungkin bukan empat belas atau lima belas, namun bisa delapan belas atau sembilan belas. Untuk alasan apa pastinya Matius melewati raja-raja ini dalam silsilah Yesus, mungkin kita tidak akan tahu. Kalaupun kita ingin menebak, mungkin jawabannya terletak pada bahwa angka empat belasnya sendiri itu penting, dan bukan hanya kesamaan jumlah antar tiap sub-silsilah. Dengan melihat bahwa 1) Matius menggunakan dua sistem perhitungan dalam menentukan jumlah keturunan dan 2) ada beberapa nama yang dilewati dalam silsilah ini. Dan kalau kita memang sudah sepakat bahwa angka empat belas ini penting, barulah kita bertanya. Mengapa ya?
Beberapa budaya memiliki sikap tertentu terhadap beberapa angka. Empat menjadi angka keramat bagi orang Cina. Sembilan belas menjadi angka spesial di agama Islam. Tiga belas sering dianggap sebagai angka sial. Bagaimana dengan empat belas? Kita bisa memulai dari latar belakang bangsa Israel. Angka apa yang spesial bagi mereka? Jawaban yang tampaknya akan paling umum didapat jika kita bertanya kepada orang Yahudi adalah tujuh. Sabat, kandil dari emas murni (Kel 25), tahun Yobel (Im 25; Jubilee), dst. Dan hubungan antara empat belas dan tujuh secara sederhana yaitu empat belas kelipatan tujuh. Dan tiga kali empat belas keturunan mungkin setara dengan enam kali tujuh keturunan. Karena itu, sekarang adalah kali yang ke-tujuh dari tujuh keturunan ini. Mungkinkah sesuatu yang spesial akan terjadi pada kali yang ke-tujuh dari tujuh keturunan ini? Argumen seperti ini, jika berdiri sendiri, mungkin terlihat konyol. Namun, jika dikembalikan kepada rentetan argumen sebelumnya yang dapat dibangun dari satu bagian tulisan Matius ini, mungkin yang terjadi adalah sebaliknya. Matius dengan seksama berusaha meyakinkan pembacanya, dari berbagai aspek, bahwa ‘inilah buku silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.’ (Mat 1:1) Dan setiap pembaca diundang untuk menemukan sendiri kebenaran klaim ini di kelanjutan buku yang ditulis Matius ini. Selamat membaca!
Matius 1:1-17 (II)
Lanjutan dari tulisan ini.
2. Abraham memperanakkan Ishak.
Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub… . Isai memperanakkan raja Daud. David ton basilea. Terjemahan alternatif (terjemahan bahasa Indonesia menggunakan manuskrip yang berbeda dengan beberapa terjemahan bahasa lain): David the king. Daud, sang raja. Isai memperanakkan Daud, sang raja.
Dari Abraham, yang kepadanya Tuhan mengadakan perjanjian, sampai kepada Daud, dimana Israel mencapai puncak kejayaannya, dimana perjanjian antara Tuhan dan Abraham itu seakan akan atau sudah terpenuhi, masa-masa dimana seluruh Israel selalu dapat melihat ke belakang dan berkata: Ya, kapan kita bisa seperti itu lagi! Dari Abraham, sampai kepada Daud, sang raja.
Selanjutnya. (ay. 6b-11)
Daud, sang raja, memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam… . Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.
Dari Daud, sang raja, yang kepadanya Tuhan mengadakan perjanjian bahwa takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya, sampai kepada Yekhonya dan saudara-saudaranya, yang beserta seluruh bangsa Yehuda, dibuang ke Babel. Bait Allah dihancurkan. Israel menjadi jajahan. Mereka dibuang ke Babel. Masa-masa dimana seluruh Israel masih berada sampai saat ini. Ya, memang mereka sudah kembali ke tanah mereka sekarang. Ya, Bait Allah sudah dibangun kembali oleh Herodes. Namun, jelas bukan kondisi seperti ini yang mereka idam-idamkan untuk terjadi jikalau mereka sudah sungguh-sungguh kembali dari pembuangan. Tidak, bukan seperti ini. Kalau kita sudah kembali dari pembuangan, maka minimal kita akan seperti masa raja Daud!
Dari Daud, puncak kejayaan bangsa Israel, kepada Yekhonya dan saudara-saudaranya, titik terendah (dan masih dialami) dalam perjalanan bangsa Israel.
Terakhir. (ay. 12-16)
Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel… . Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Dari pembuangan ke Babel, sampai kepada Yesus yang disebut Kristus. Yesus? Siapa dia? Apa yang spesial darinya? Bagian pertama: dari Abraham sampai Daud. Dari janji kepada saat dimana janji itu seperti sudah terpenuhi. Bagian kedua: dari Daud sampai pembuangan. Dari puncak kejayaan sampai kepada titik terendah. Terakhir: dari pembuangan sampai kepada Yesus. Hem. Kalau di bagian pertama, kisahnya indah. Bagian kedua, kisahnya sungguh menyesakkan. Apa yang terjadi sekarang? Apakah di masa Yesus ini bangsa Israel mengalami yang lebih buruk lagi dari pembuangan? Atau, sebaliknya, jangan-jangan, lewat seorang yang bernama Yesus ini, bangsa Israel menemukan karya keselamatan sejati dari Allah? Yang mana ini? Kekalahan atau kerajaan Allah?!
Untuk mengetahuinya, setiap pembaca diundang untuk meneruskan membaca buku yang ditulis Matius ini… selamat membaca dan menemukan akhir kisah ini!
Hint: Di akhir cerita ini, Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mat 28:18)
Matius 1:1-17 (I)
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak,
Ishak memperanakkan Yakub,
Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar,
Peres memperanakkan Hezron,
Hezron memperanakkan Ram,
Ram memperanakkan Aminadab,
Aminadab memperanakkan Nahason,
Nahason memperanakkan Salmon,
Salmon memperanakkan Boas dari Rahab,
Boas memperanakkan Obed dari Rut,
Obed memperanakkan Isai,
Isai memperanakkan raja Daud.Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
Salomo memperanakkan Rehabeam,
Rehabeam memperanakkan Abia,
Abia memperanakkan Asa,
Asa memperanakkan Yosafat,
Yosafat memperanakkan Yoram,
Yoram memperanakkan Uzia,
Uzia memperanakkan Yotam,
Yotam memperanakkan Ahas,
Ahas memperanakkan Hizkia,
Hizkia memperanakkan Manasye,
Manasye memperanakkan Amon,
Amon memperanakkan Yosia,
Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel,
Sealtiel memperanakkan Zerubabel,
Zerubabel memperanakkan Abihud,
Abihud memperanakkan Elyakim,
Elyakim memperanakkan Azor,
Azor memperanakkan Zadok,
Zadok memperanakkan Akhim,
Akhim memperanakkan Eliud,
Eliud memperanakkan Eleazar,
Eleazar memperanakkan Matan,
Matan memperanakkan Yakub,
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria,
yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.Jadi seluruhnya ada:
empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud,
empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel,
dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.(Mat 1:1-17)
1. Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
Biblos geneseos Iesou Christou, uhiou David, uhiou Abraam. Biblos geneseos. Buku permulaan. Buku genesis-nya Yesus Kristus.
Ada kemiripan antara cara Matius membuka tulisannya dengan Yohanes. Yohanes memulai dengan:
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh 1:1)
Yang jelas-jelas berusaha meniru bagaimana kitab Kejadian dimulai:
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (Kej 1:1)
Yohanes dan Matius sama-sama menggunakan unsur-unsur yang terdapat pada kitab suci Yahudi untuk memulai tulisan mereka. Matius memulai dengan: biblos geneseos. Buku kejadian. Kejadian-nya Yesus Kristus. Apa maksud Matius dalam memulai dengan frase ini? Apakah Matius menulis dalam kerangka Torah (lima buku Musa; Taurat)? Memang unsur-unsur itu ada disana. Dimulai secara eksplisit dengan kerangka Kejadian, kita juga menemukan beberapa kisah-kisah yang kental dengan nuansa Taurat. Pengungsian Yusuf, Maria, dan Yesus ke Mesir dan kembali lagi. (Mat 2; Kel) Yesus dicobai di padang gurun setelah berpuasa 40 hari 40 malam. (Mat 4; bandingkan dengan 40 tahun Israel di padang gurun – Bil) Yesus mengutus dua belas murid untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya, yang mirip dengan akhir kitab Ulangan yang ‘menggantung’, dimana masih ada tugas untuk Yosua untuk merebut tanah Kanaan. (Mat 28; Ul 34) Harus ditekankan bahwa jelas ada beberapa kemiripan, namun jelas juga kisahnya tak sama persis. Ada perbedaan-perbedaan. Yang perlu menjadi perhatian kita adalah, apakah Matius berusaha menuliskan kisah Yesus ini seturut nuansa Taurat? Apakah pembaca mula-mula akan dapat merasakan betapa miripnya buku yang ditulis Matius ini dengan apa yang sering mereka dengar atau baca dari Taurat, dengan perbedaan bahwa buku yang ditulis Matius ini bukan bercerita tentang perjalanan bangsa Israel per se, namun kisah perjalanan Yesus? Dan kalau iya, apa hubungan Yesus yang menjadi subyek buku Matius ini dengan bangsa Israel yang menjadi subyek dari kitab Taurat? Apakah pembaca masa kini dapat lebih mengerti kitab Matius jika kita juga memiliki paradigma yang sama seperti pembaca mula-mula dalam membaca kitab ini? ‘Para pembaca hendaklah memperhatikannya.’ (Mat 24:15)
Natal di Orchard
Teman-teman sudah ke Orchard akhir-akhir ini? Semakin meriah saja dari tahun ke tahun. Dan semakin dihiasi dengan semangat berbelanja. Di Singapura, orang merayakan perayaan Natal.
Hari ini saya bertanya kepada teman sekerja saya mengenai hal ini. Menurut kamu, kenapa ya di Orchard itu begitu meriah sekarang? Apa yang orang-orang rayakan? Dan sungguh menarik sekali untuk mendengar setiap jawaban yang disampaikan dan percakapan yang terjadi.
Bagaimana kalau teman-teman juga melakukan hal yang sama? Sederhana saja. Tanyakan kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita setiap harinya. Eh, kenapa ya di Orchard itu begitu ramai? Apa artinya? Dan mulailah percakapan yang, siapa tahu, dapat membantu kedua belah pihak menemukan arti Natal yang sebenarnya. Selamat bertanya dan bercakap-cakap. =)
the miniature earth
If we could turn the population of the earth into a small community of 100 people, keeping the same proportions we have today, it would be something like this…
The original report from which the video was based on:
Hipotesa dan resiko kritik
Membuat hipotesa adalah salah satu ciri khas diskursus ilmiah. (atau komunikasi antar umat manusia?) Dan dalam hipotesa yang dibuat, tak jarang seorang harus berhadapan dengan hipotesa yang berlawanan. Dan cara orang berhipotesa dan menghadapi perbedaan hipotesa pun mengalami perkembangan selama beberapa abad terakhir ini.
Dahulu dua pihak yang berlawanan dapat saling bertentangan dengan mengeluarkan kata-kata yang tajam dan cenderung kasar. Dengan didasari bahwa apa yang diyakini masing-masing pihak adalah kebenaran mutlak. Karena itu, pendapat pihak lain pasti salah. Kecil sekali ruang bagi toleransi berpendapat. Dan tak jarang pihak minoritas mengalami penyiksaan karena perbedaan pendapat ini. Michael Servetus mati dibakar.
Sebaliknya, sekarang dua pihak yang berlawanan dapat saling bertentangan tanpa menyerang satu sama lain secara eksplisit. Jika memang ada perbedaan pendapat, usahakanlah agar hipotesa kita tidak menyakiti pihak lain. Politically correct, kata mereka. Walau jelas kedua hipotesa ini tidak dapat berdiri secara bersamaan. Akhirnya, klaim kebenaran menjadi dangkal. Dan orang pun tidak melihat alasan untuk berpindah ke kubu lain. Toh, mereka tidak bilang kita salah.
Menyatakan kebenaran dengan tajam memang memiliki resiko yang lebih tinggi ketimbang dengan lemah. Franz Magnis-Suseno menulis dalam bukunya,
Dengan mengikuti Karl Popper, saya berpendapat bahwa semakin suaut interpretasi yang mau diberikan disajikan dengan terbuka, semakin terbuka pula interpretasi itu untuk dikritik dan justru dengan demikian dapat memajukan pengertian kita. ‘Fakta-fakta’ yang dilukiskan dengan garis-garis yang kabur memang lebih sulit untuk dikritik, tetapi oleh karena itu juga kurang memuat informasi. Oleh karena itu berikut ini pola-pola dan kaitan-kaitan akan saya gambarkan dengan agak lebih tajam daripada dengan lemah, dengan agak lebih pasti daripada dengan tidak menentu, dan dengan lebih suka mengambil resiko untuk memberikan interpretasi yang berlebihan daripada interpretasi yang terlalu lemah. (Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa, hal. 7)
‘Fakta-fakta’, interpretasi, hipotesa yang kabur memang lebih sulit untuk dikritik. Dan, agak tidak berguna dalam memajukan pengertian kita bersama. Pergulatannya sekarang adalah bagaimana kita dapat menyatakan kebenaran dengan tajam dan pada saat yang bersamaan mampu menghormati perbedaan pendapat yang terjadi. Berbeda pendapat dalam kasih. Hal ini akan sangat baik sekali untuk dijalankan.
Berdasarkan kerangka berpikir seperti ini, cara penulisan saya akan sedikit berubah dalam segi ketajaman pendapat, hipotesa, interpretasi. Kiranya kerangka berpikir seperti ini dapat memajukan pengertian kita bersama. Saya mengakui bahwa cara saya menulis selama ini disengajakan untuk ‘lemah,’ karena saya memang agak malas untuk berpolemik. Namun pada akhirnya argumen-argumen yang diajukan menjadi lemah. Dan pada akhirnya semua dirugikan.
Mari kita lihat apa yang terjadi dengan perubahan kerangka berpikir seperti ini. Saya akan memulai dengan dua pemikiran mengenai gereja di tulisan berikutnya. Dan, tentunya, diharapkan kerangka berpikir seperti ini dapat melahirkan suatu atmosfer polemik yang sehat, yang akan ‘memajukan pengertian kita.’ Yang memiliki implikasi langsung bahwa semakin banyak diskusi harus terjadi antara saya dan saudara dalam blog ini untuk mencapai visi tersebut. Mari.
Matter for the Church
Theology is not a private subject for theologians only. Nor is it a private subject for professors. Fortunately, there have always been pastors who have understood more about theology than most professors. Nor is theology a private subject of study for pastors. Fortunately, there have repeatedly been congregation members, and often whole congregations, who have pursued theology energetically while their pastors were theological infants or barbarians. Theology is a matter for the Church.
Karl Barth, “Theology,” in God in Action, pp. 39-57.
sama saja (?)
Jam 8 malam tadi saya sempat menyaksikan sedikit tayangan di History Channel berjudul ‘Inside Pol Pot’s Secret Prison.’ Yang sungguh menghenyakkan. Jadi terpikir mengapa kekejian semacam itu bisa terjadi di dunia yang katanya ‘beradab.’ Walau akhirnya terpikir juga bahwa mungkin anak-cucu saya akan mempertanyakan hal yang sama terhadap generasi saya (kita, sekarang) yang tampaknya tidak berhasil juga (dan terkadang apatis pula) dalam menghentikan kekejian yang terjadi di Darfur, Sudan. (atau, dengan derajat yang berbeda, Korea Utara, Myanmar, Afghanistan, Irak)
Dan tadi saya menontonnya sambil membaca sebuah buku sejarah kaum Protestan. Menyaksikan begitu banyak perang agama yang terjadi di awal masa Reformasi (dan memakan jutaan lebih korban), memang sempat terpikir, mempertanyakan mengapa hal semacam itu harus terjadi dan sempat merendahkan mereka. Walau akhirnya terpikir juga bahwa mungkin anak-cucu saya akan mempertanyakan hal yang sama terhadap generasi saya (kita, sekarang) yang begitu dangkal spiritualitasnya sampai-sampai tak ada lagi yang layak ‘diperangkan.’
Dan saya pun beranjak dari depan TV dan melanjutkan membaca…






1 komentar