Nyembah Nanas
Supervisor saya sangat suka nanas. Sekarang ia memiliki perkebunan nanas kecil-kecilan di rooftop S2. Satu cita-citanya adalah mengubah seluruh tanah kosong NTU menjadi perkebunan nanas. Cita-cita lainnya adalah membentuk NTU Pineapple Club haha. Sampai saya pun jadi tahu bagaimana menanam nanas sekarang. Lain cerita deh yang ini. Sekarang saya mau cerita kejadian kemarin sama supervisor saya. Jadi kemarin kami bercakap-cakap dan ternyata, menurut dia, ada orang-orang yang menyembah nanas sebagai ilah. -_-”
Ceritanya tahun lalu dia pergi ke Berlin untuk menghadiri suatu konferensi ilmiah. Namanya orang Asia, ke Eropa kangen makan masakan Asia. Dan di Jerman itu banyak imigran dari Vietnam. [banyak yang mengungsi ke Jerman pas perang Vietnam] Jadinya banyak restoran Vietnam juga disana. [pengalaman pribadi: restoran tempat makan all-you-can-eat paling murah di München itu yang punya orang Vietnam juga, cuma minyaknya banyak banget -_-" abis makan eneg-eneg sama minyak] Ya, terus, di satu restoran Vietnam yang ia temui, pemiliknya itu menyembah nanas. Jadi ada semacam altar dengan nanas di atasnya. Wew. Malah supervisor saya bilang kalau ada beberapa orang Cina yang menyembah nanas. Weww. Saya cari-cari di Wikipedia, ternyata orang Moche di Peru itu menyembah buah-buahan, dan sering menampilkan nanas dalam karya seni mereka. Wewww.
Well, kemarin sih kami membicarakan hal ini sambil tertawa. Cuma ya abis itu jadi mikir-mikir, lah. Kok bisa ya. Jelas-jelas, yang nanam nanas manusia juga. Dimakan pula. Enak lagi. Eh, malah disembah. Walau emang ga jauh juga sih sama yang terjadi di kisah ini.
Ada seorang tukang kayu. Ia mendapatkan kayu dengan menebang pohon di hutan, atau menumbuhkannya.
Setelah ditebang, kayu itu menjadi kayu api baginya. Ia memakainya untuk memanaskan diri. Ia juga menyalakannya untuk membakar roti.
Di sisi lain, ia juga membuat kayu itu menjadi allah lalu menyembah kepadanya. Ia membuat bagan terlebih dahulu. Mengerjakan dengan pahat, menggarisinya, memberi bentuk seorang laki-laki kepadanya. Dibuatnyalah patung itu, ditaruhnyalah dalam kuil, dan sujudlah ia kepadanya.
Ya, begitulah. Setengah kayu itu dibakarnya dalam api dan di atasnya dipanggangnya daging. Ia makan daging yang dipanggang itu sampai kenyang. Ia juga dapat memanaskan dirinya dengan api dari kayu itu.
Setengahnya lagi, dikerjakannya menjadi ilah, menjadi patung sembahannya. Ia sujud kepadanya, ia menyembah dan berdoa kepadanya.
Sungguh menyedihkan orang ini. Ia tidak berpikir sama sekali, ataupun mempertimbangkan, bahwa:
“Setengah kayu itu sudah kubakar dalam api dan di atas baranya juga sudah kubakar roti, sudah kupanggang daging, lalu kumakan. Masakan sisanya akan kubuat ilah? Masakan aku akan menyembah kepada kayu kering?”
Kisah di atas adalah adaptasi dari Yesaya 44:13-19. Sudah dua ribu enam ratus tahun lewat sejak kisah ini. Namun ternyata keadaannya tidak jauh berbeda. =)
Saya sendiri sampai sekarang masih bingung kok bisa-bisanya ada orang yang menyembah nanas. Atau kayu. Mencoba mengerti pola pikir tersebut. Mungkin seperti ini.
Bagi tukang kayu ini, betul ia yang membakar kayu itu dalam api untuk mendapatkan kehangatan dan memanggang makanan. Namun, setelah kayu itu dibakar, ia menjadi hangat dan kenyang. Kepada siapa ia harus berterima kasih? Ya ke kayu itu! Kan, berkat kayu itu ia bisa menjadi hangat dan kenyang sekarang. Hehe. Mungkin, mungkin, pemikirannya seperti itu.
Sama dengan yang menyembah nanas. Orang yang mengusahakan nanas, dapat memiliki penghasilan lewat hasil perkebunan nanasnya. Ia jadi bisa hidup lewat perkebunan nanasnya. Lagi-lagi, kepada siapa ia harus berterima kasih? Ya akhirnya ke nanas itu juga.
Kejadian kemarin itu pada awalnya terlihat lucu, cuma setelah dipikir-pikir lagi, sungguh menyedihkan. Karena itu, kiranya dengan cerita ini, kita juga boleh dengan giat menceritakan bahwa di balik kayu dan nanas itu, ada Allah yang mengasihi manusia dan Dialah satu-satunya yang layak dipuji dan disembah.
Dan sorenya kami makan nanas bersama hehehehe. Lagi musim nanas, nih. =)





nanas di kantin biasanya ga bersih nyucinya..bikin mulut ga enak kalo dimakan >.< kao saya sih seneng nanas kalo dicampur dgn masakan.. lebih gimanaaaaa gitu… (ini blog saya ato septian >.<)
bentar lagi makan nanas bareng lagi nih. >.<